Pilih oli gardan mobil memang enggak ribet, tapi jangan disepelekan. Salah pilih bisa bikin mobil jadi enggak ada tenaga.
Yang harus dicek sama seperti oli mesin pada umumnya, yaitu kekentalannya.
Tapi tingkat kekentalan oli gardan berbeda dengan oli mesin, walau pakai standar yang sama yaitu SAE (Society of Automotive Engineer).
Jadi jangan salah kaprah ya kalau melihat ada SAE di oli mesin, jangan langsung mikir bisa dijadiin oli gardan juga.
Karena biasanya oli mesin justru lebih encer dari oli gardan yang angka SAE-nya ada di 90-an ke atas.
Penggunaan yang tidak tepat seperti pakai oli mesin jadi oli gardan bisa bikin mesin jadi cepat meraung dan berisik.
Efeknya kalau terus dipaksakan, komponen akan lebih cepat aus dan bisa merusak seal.
Tapi juga jangan asal pilih ya… Karena balik lagi, oli gardan juga ada beberapa pilihan kekentalan dari SAE 80 hingga 140.
Efek menggunakan oli gardan yang lebih kental juga langsung kerasa karena mobil langsung kerasa loyo.
Ketika akan menggunakan oli yang lebih kental dari spesifikasi standar pabrik (contohnya, beralih dari SAE 90 ke SAE 140), oli tersebut akan meningkatkan beban gesekan pada komponen gir saat berputar.
Akibatnya, gir membutuhkan tenaga ekstra untuk berputar melawan kekentalan oli yang berlebih.
Kebutuhan tenaga tambahan ini pada akhirnya akan mereduksi (mengurangi) tenaga yang seharusnya disalurkan dari mesin.
Penggunaan oli gardan yang lebih kental dari rekomendasi pabrikan secara langsung akan mengurangi performa dan tenaga mesin mobil.
Lalu ada yang harus diperhatikan lagi yaitu kalau gardannya menggunakan LSD (Limited Slip Diferential), seperti Mitsubishi Pajero Sport 4×4 dan Toyota Fortuner 4×4 VNTurbo generasi lama.
Perhatikan spesiifikasinya karena harus menggunakan oli yang diformulasikan untuk gardan LSD.
Sebab kalau pakai oli gardan biasa bisa membuat sistem LSD-nya tidak bekerja dan bisa nyangkut!
Pusing milihnya? Ya sudah, bawa aja ke bengkel resmi. Hehehe…
